Feed on
Posts
Comments

Antara Garam, Air Segelas, dan Air Danau

Ingatanku kembali terngiang pada taujih Ustadz Ahmad Arqam sewaktu masih di Surabaya dulu. Yaah…, manusia bakal mengalami sekian banyak peristiwa dibarengi dengan sekian banyak pula permasalahan, silih berganti. Inilah yang kemudian menjadikan ritme kehidupan manusia dinamis.

Masalah adalah bumbu kehidupan. Rasanya gak rame kalo gak ada masalah, datar-datar saja…(Bukan berarti kita harus cari-cari masalah lho…, karena masalah bisa bikin kita pusing tujuh keliling, atau menjadikan kita kurus kering). Tidak ada seorang di dunia ini yang bebas sama sekali dari masalah. Sudah menjadi sunnatullah, semua manusia bakal diuji Allah dengan berbagai masalah. Itulah wujud kecintaan Allah pada hambaNya. Penyikapan terhadap masalah bisa membawa seseorang kepada derajat mulia (karena keteguhan iman dan husnuzhannya kepada Allah), atau sebaliknya, hina dina (karena lunturnya iman dan suuzhannya kepada Allah).

Masalah bukan untuk ditakuti, tapi untuk dihadapi, dicarikan solusi sehingga kita lulus uji, menjadi orang yang berprestasi dalam hidup ini. Yaah…, menyelesaikan masalah adalah suatu prestasi. Maka jangan sampai lupa bersyukur selepas kita berhasil menyelesaikan suatu masalah.

Menghadapi masalah membutuhkan kesiapan hati. Untuk menjadi pemenang, pastikan hati kita terjaga agar tetap suci (yah…. sering-sering kita tazkiyyatun nafs, nyuciin hati, by evaluasi diri/muhasabah, tafakur ayat-ayat kauni, tadabbur ayat-ayat qauli, nuntut ilmu/thalabul ‘ilmi, banyak-banyak berdzikir, utamanya mengingat mati/dzikrul maut, dan tak lain dan tak bukan, menghiasi diri dengan akhlak terpuji, dan sarana-sarana yang lain). Hati nan suci akan memiliki keleluasaan ruang untuk merekam setiap peristiwa dan mengambil pelajaran/ibrah-nya.

Masalah diibaratkan garam. Sementara ruang hati kita diibaratkan gelas atau danau yang berisi air. Garam yang dimasukkan ke dalam segelas air akan menjadi air garam, yang kalau kita meminumnya tentu mikir-mikir dulu asinnya, semakin banyak konsentrasi garamnya, semakin pula kita tidak tahan rasanya, tidak enak, bisa-bisa muntah (kecuali air garam yang ditambah gula pasir dalam porsi yang sesuai, bisa jadi oralit yang efektif nggantiin cairan tubuh yang keluar sewaktu kita diare. Ini sih….obat, manfaat.). Nah sebaliknya jika garam dimasukkan ke sebuah danau yang berisi air, kalaupun kita mengambil airnya akan tetap terasa segar (karena saking kecilnya konsentrasi garam dibandingkan dengan volume air danau). Hal ini menggambarkan kelapangan hati kita dalam menghadapi masalah akan berpengaruh kepada perasaan, pikiran dan hidup kita, apakah terasa begitu sempit, berat nan menyesakkan, atau biasa bahkan ringan nan membawa kita kepada suatu pelajaran, membawa kita kepada kedewasaan dan kebijaksanaan..

Nah tinggal kita memilih, pilih air segelas atau air danau. Mangga….

(Special advice for myself that still feel complicated…)

Mahalnya Nikmat

Nikmat. Yah, satu kata yang bisa digabung dengan kata “minum susu”-nikmat, atau kalo orang-orang kampung asal-usulku mengatakan “makan singkong bakar” pun-nikmat (yup,…karena saking susahnya mencari black forest, karena gak ada yang jualan, atau emang begitu berat merogoh kocek untuk memanjakan diri menikmati manis kue itu). Tapi nikmat kali ini kita sambungkan dengan kata Allah, jadi nikmat Allah.

Sekian banyak nikmat yang kita terima dari Al Khaliq (hingga tak terhitung jumlahnya), sering kali membuat kita terlena, tak peduli untuk bersyukur, sekedar mengucap hamdalah aja gak teragendakan, sibuk dengan urusan dunia kita yang tak pernah habisnya. Baru ketika diuji dengan reverse nikmat itu, kita baru terjaga dari ke-alpa-an kita. Sebut aja, mahalnya nikmat sehat akan begitu terasa ketika kita sakit. Mahalnya waktu longgar akan begitu terasa ketika kita dalam himpitan kesempitan. Dua nikmat itulah yang dikabarkan Rasulullah sering dilupakan manusia. Karena 2 nikmat itu berpeluang manusia berbuat kesia-siaan yang menjauhkannya dari derajat mulia ketaqwaan.

Nah kalo kita bener-bener pengin mendapat predikat mulia di sisi Allah, satu jalan terpampang di hadapan kita : banyak-banyak bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah, sedikit banyak kita syukuri. Memahami syukur, melihatlah ke bawah. Artinya sekurang beruntung-beruntungnya kita, masih ada sekian banyak orang yang lebih tidak beruntung daripada kita. Ini berkebalikan dengan cara kita memahami amal shalih lho yaa… Merasa diri kita masih begitu dangkal amal kebaikan dan kemanfaatn kita dibanding orang lain, sehingga memacu kita untuk terus ber-fastabiqul khairat, berlomba-lomba terdepan membawa panji-panji kebaikan. Dan kebaikan tidak harus monumental, tapi bisa kita mulai dari yang kecil-kecil dahulu, sedikit-sedikit akan tetapi istiqomah. Jangan sepelekan amal-amalan kecil, karena boleh jadi dari amalan itulah kita bisa masuk surga, sebagaimana kisah wanita tua penyapu jalan yang dikabarkan Rasulullah menjadi penghuni surga. Atau kisah sahabat yang karena kelapangan hatinya meng-ikhlaskan kesalahan orang-orang yang melukainya menjelang tidurnya, menjadi penghuni surga pula. Atau Bilal yang karena keistiqamahannya menjaga wudhu&shalat 2 rekaat sesudahnya, ternyata memberi kabar gembira bahwa terompahnya saja sudah didengar Rasulullah di surga. Alangkah indahnya. Semoga kita mendapatkan Nikmat Agung jannah dengan selalu mengingat akan mahalnya nikmat Allah, yang memunculkan semangat untuk bersyukur dan beramal shalih yang tak kan pernah padam selamanya.

Dan Tahun pun Berganti

Wah, tak terasa tahun Masehi telah bertambah 1 digit. Pun demikian tahun Hijriyah hampir menapakkan langkahnya di ujung 1428 H. Sebagaimana seremonial-seremonial yang bisa kita cermati di akhir tahun Masehi, hiasan bunga api, bunyi-bunyian terompet dan begadang sampai pagi menandai terbitnya tahun baru Masehi, disuguhkan oleh para remaja negeri ini khususnya yang berdomisili di perkotaan-perkotaan. Lalu… bagaimana dengan Tahun Baru Islam, 1 Muharram… Bisa diterka, damai, sunyi, tak semeriah dan seagung Tahun Baru Masehi.

Dalam Islam, sebenarnya pergantian tahun bukanlah hal yang istimewa atau bahkan diistimewakan. Dua hari istimewa setahun dalam Islam adalah Idul Fitri dan Idul Adha, hari istimewa sepekan adah hari Jum’at. Bergantinya tahun merupakan pergeseran waktu sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah yang akan menambah keimanan kaum yang mau mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah itu (QS. 3: 190-191). Tahun Masehi didasarkan pada penanggalan Syamsiyah, dengan melihat pergerakan bumi mengelilingi matahari. Sedangkan tahun Hijriyah didasarkan pada penanggalan Qamariyah, dengan melihat pergerakan bulan mengelilingi bumi.

Sangat disayangkan jika momentum pergantian tahun diisi dengan aktivitas-aktivitas yang mengarah pada hura-hura, apalagi hedonisme menggeser aktivitas dzikir akan hakikat waktu yang tak berulang menggerogoti jatah waktu hidup kita. Bersamaan dengan ritual-ritual perta kembang api tahun baru, di beberapa masjid, momentum tahun baru dipakai untuk momen muhasabah diri (bukan ikut merayakan lho, tapi evaluasi amalan-amalan sampai akhir tahun itu). Kaum muslimin khusyu’ merefleksikan diri akan hari-hari kemarin (untuk diambil pelajaran/ittibar), merencanakan hari esok menuju harapan dan kebaikan. Tinggal aksinya donk… waktu yang kita punya adalah hari ini, tak berarti tanpa ikhtiar setulus hati.

Mangga Pinarak—-

Selamat Datang di gubug persinggahan tengah sawah

semilir angin membuai hijau ranau daun-daun padiku

sejuk, damai, nan menenangkan…